Bimbingan Sakaratul Maut Bagi Pasien Muslim [Oleh : NESSA SONTIVA]

Posted on Updated on

Bimbingan Sakaratul Maut Bagi Pasien Muslim 35334d2 Semua manusia pasti akan mengalami yang namanya kematian. Karena semua itu sudah ditentukan dan di takdirkan oleh Allah SWT. Di sini tugas kita sebagai manusia adalah menerima kematian dengan ikhlas dan bertawkal kepada Allah.

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut.

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”.

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah: تَحِيدُ مِنْهُ مَاكُنتَ ذَلِكَ بِالْحَقِّ الْمَوْتِ سَكْرَةُ وَجَآءَتْ “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. [Qaaf: 19]

ALLAH

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian.

{30}الْمَسَاقُ يَوْمَئِذٍ رَبِّكَ إِلَى {29} بِالسَّاقِ السَّاقُ وَالْتَفَّتِ {28} الْفِرَاقُ أَنَّهُ وَظَنَّ {27} رَاقٍ مَنْ وَقِيلَ {26} التَّرَاقِيَ بَلَغَتِ إِذَا كَلآ

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]

Tugas kita sebagai perawat adalah membimbing pasien yang sedang sakaratul maut, sesuai dengan ajaran atau anjuran Islam.

Hal pertama yang perlu di perhatikan perawat dalam menghadapi pasien yang sedang sakaratul maut adalah diri sendiri tidak boleh takut. Bersikap   yang   wajar,   sebab   kematian merupakan salah satu takdir Allah yang tidak dapat dihindarkan

YANG PERLU DILAKUKAN DALAM MEMBIMBING PASIEN SAKARATUL MAUT (BIMBINGAN SAKARATUL MAUT BAGI PASIEN MUSLIM)

sakratul-maut1 Untuk   pasien   yang   sudah   dalam   keadaan   kritis,   maka perawat menuntun pasien untuk membaca “laa ilaaha illallah” atau paling sedikit   dituntun   membaca   kalimat “Allah…Allah….Allah”.   Jika memungkinkan, keluarganya pun dianjurkan untuk ikut menuntun membacakan kalimat tersebut.

Selain itu, diyakinkan rasa optimis terhadap Allah, bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya, sehingga ia akan merasa tenang dan tidak panik. Perlu diingat bahwa dalam menuntun pasien yang sudah dalam keadaan kritis seperti itu, jangan selalu didesak mengucapkan kalimat tersebut berulang kali. Asal ia sudah mengucapkan” laa ilaaha illallah” atau Allah umpamanya, itu sudah cukup, kecuali kalau kemudian ia bicara kalimat yang lain,maka perlu dituntun membaca kalimat tersebut lagi.

Bila   terdapat   keluarga   pasien   yang   hadir,   perawat memberikan nasehat agar selalu tabah, ikhlas, sabar, dan berdoa kepada Allah agar pasien yang mau meninggal bisa menjadi khusnul khotimah (akhir yang baik), semua dosa dan kesalahannya diampuni Allah SWT, dan semua amal baiknya diterima di sisi-Nya

Berdasarkan tuntunan dari Rasulullah Saw, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, baik oleh anggota keluarga, pembesuk orang sakit, maupun orang yang sedang sakit. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menyabarkan orang sakit agar menerima kenyataan itu sebagai bagian dari takdir dan cobaan Tuhan. Tabah menjalani penyakit bagian dari ibadah dan berfungsi sebagai penghapus dosa masa lampau.
  2. Jangan membayangkan sesuatu yang menakutkan kepada orang sakit, sebaliknya upayakan membangkitkan semangat, rasa optimis, dan kepasrahan (tawakkal) kepada Allah Swt.
  3. Tuntunkan sebuah doa dari Rasulullah terhadap orang sakit sebagai berikut: Allahumma ahyiniy ma kanatil hayatu khairan li, wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li. Artinya: “Ya Allah, perpanjanglah hidupku jika itu lebih baik bagiku, dan ambillah aku jika itu lebih baik bagiku”.
  4. Anggota keluarga dan para pelayat bisa membantu dengan doa sebagai berikut: Allahumma ahyihi (ha) ma kanatil hayatu khairan lahu (laha), wa tawaffahu (ha) idza kanatil wafatu khairan lahu (laha). Artinya: “Ya Allah, panjangkanlah hidupnya jika itu lebih baik baginya, dan ambillah jika itu lebih baik baginya”.
  5. Doa lain yang dianjurkan dan diajarkan Rasulullah kepada para pembesuk terhadap orang sakit ialah: Allahumma rabban nasi, mudzhibal basi, isyfi antasy syafi, syifa’an la yughadiru saqaman. Artinya: “Ya Allah, Tuhan manusia, sembuhkanlah (dia), Engkaulah Zat Yang Maha Penyembuh, Penyembuh yang tidak menyisahkan (penyakit) kepada orang sakit”.
  6. Ketika Rasulullah sedang sakit, Jibril membesuknya dan membaca : Bismillahi arqika, min kulli syai’in yu’dzika, min syarri kulli nafsin wa ‘ainin hasidah, Alhahu yasyfika. Artinya: “ Atas izin Allah saya mengupayakan kebaikan atasmu, dari segala sesuatu yang membuatmu tersiksa, dari keluhan setiap diri dan mata yang dilemahkan Allah, Allah menyembuhkanmu”.
  7. Orang yang sudah dalam keadaan sakaratul maut, anggota keluarga atau pelayat menuntun orang sakit untuk membaca atau mengikuti dalam hati lafaz tahlil: La ilaha illal Lah, Muhammadur Rasulullah, berkali-kali, sampai orang sakit menghembuskan napas terakhir. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang mengakhiri hidupnya dengan kalimat La ilaha illal Lah, maka yang bersangkutan akan masuk surga”.
  8. Para pelayat lainnya dianjurkan membaca surah Yasin, untuk meringankan beban orang yang sedang zakaratul maut, sesuai anjuran Rasulullah Saw.

bacaan dua kalimat syahadat Seseorang dinyatakan meninggal dunia jika sudah mengalami tanda-tanda antara lain sebagai berikut:

1.Denyut jantung sudah berhenti total.

2. Sebelumnya, bagi yang meninggal secara normal, biasanya diawali dengan rasa dingin ujung jari-jari kaki, kemudian berangsur-angsur naik ke bagian atas anggota badan.

3. Biasanya dada mulai kedengaran bunyi sesak napas, lalu disusul dengan bunyi di tenggorokan.

4. Biasanya yang bersangkutan mengambil dan membuang napas dari mulut.

5. Kemudian perlahan-lahan pandangan matanya menengok ke atas. Umumnya orang yang akan meninggal matanya menengadah ke atas, seperti kata Rasulullah: “Sesungguhnya apabila roh seseorang dicabut, maka tatapan matanya akan menyertainya”.

6. Bisa juga, dan lebih baik, jika pemberitaan kematian itu dinyatakan oleh petugas kesehatan yang bersangkutan. masih-hidupkah~ Semoga Bermanfaat ~

#Bimbingan sakaratul maut bagi pasien muslim, oleh:Nessa Sontiva


REFERENSI http://eprints.walisongo.ac.id/176/5/081111029_Bab4.pdf (di akses pada 9 Juni 2015 pukul 13.58)   http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/tasauf/09/02/19/32455-tuntunan-praktis-sakaratul-maut-dan-tajhizul-mayyit-bagian-pertama- (di akses pada 9 juni 2015 pukul 14.05)   http://almanhaj.or.id/content/2570/slash/0/sakaratul-maut-detik-detik-yang-menegangkan-dan-menyakitkan (di akses pada 19 juni 2015 pukul 15.300